Senin, 15 Agustus 2022

AISYA FAUZIA : KKN TBM 2O22 DESA CUPANG

 

Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah dan Putih Menjadi Biopestisida Alami Bersama Kelompok Tani di Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon

 

Aisya Fauzia

IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Kelompok 96 KKN-TBM 2022 di Desa Cupang

 

 Abstrak

Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon merupakan salah satu desa yang memiliki berbagai potensi dimana aset yang ada dapat dikembangkan lagi, terutama pada sektor pertanian dikarenakan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Cupang banyak dijumpai bahwa petani sangat ketergantungan menggunakan pestisida sintesis, padahal dari sistem tersebut memiliki banyak dampak negatif bagi tumbuhan maupun juga lingkungan di sekitar. Dengan demikian, perlu diadakan alternatif untuk mengganti ketergantungan penggunaan pestisida sintesis oleh petani di Desa Klorogan dengan menggunakan pestisida berbahan alami. Pemanfaatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan petani dalam memanfaatkan bahan- bahan alami yang ada dilingkungan seperti limbah kulit bawang putih dan merah yang dibuang secara percuma menjadi biopestisida alami yang sehat untuk dikonsumsi . Metode yang digunakan yaitu penyuluhan , pelatihan dan diksusi hasil dari kegiatan ini pengabdian masyaraka ini  dapat memberikan alternatif, pengetahuan dan keterampilan  dan juga solusi yang bermanfaat dan bisa diterapkan oleh masyarakat di Desa Cupang,

Keyword : Biopestisisa Alami, limbah kulit bawang , limbah organik

 

PENDAHULUAN

Desa cupang adalah Desa Cupang merupakan desa yang berada di daerah lereng Gunung Jaya sebelah utara dengan ketinggian 100 m dpl, sebagian besar wilayah desa cupang adalah lereng gunung dengan kemiringan antara 200 - 250. Sebelah selatan di batasi oleh Gunung Bendera yang sekaligus menjadi batas dengan desa Kedongdong, dan di sebelah barat berbatasan dengan desa Walahar, sebelah Utara di batasi oleh desa Ciwaringin, dan sebelah Timur berbatasan dengan desa Cikeusal (Gambar 1). Desa Cupang memiliki luas sekitar ± 167 887 ha dengan jumlah penduduk 3.360 jiwa yang tesebar di 4 wilayah RW. Desa Cupang memiliki sarana pendidikan berupa 1 unit taman kanak-kanak, 1 unit sekolah dasar, 1 unit madrasah (Universitas Muhammadiyah Cirebon, 2013).

Hama merupakan suatu organisme yang menempel dan menginfeksi tanaman dan juga merusak tanaman itu sendiri, hal ini mengakibatkan adanya penurunan dari berbagai bidang seperti hasil pertanian maupun juga perkebunan meliputi sayuran (Hidrayani et al., 2019). Maka dari itu, perlu dibutuhkan cara- cara guna untuk memberantas hama. Pembudidayaan tanaman terdapat berbagai kendala-kendala yang disebabkan oleh infeksi pada penyakit. Berikut, adanya faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga penyakit meliputi, adanya kelembapan, suhu, hama, cuaca dan juga bahkan oleh lingkungan. Dalam hal ini, adanya gangguan penyakit maupun hama bukan hanya disebabkan oleh faktor diatas akan tetapi, ditimbulkan oleh adanya beberapa faktor yaitu dengan adanya berbagai jenis mikroorganisme diantaranya yaitu, virus, jamur, protozoa, bakteri, tikus dan lain sebagainya (Sopialena, 2017). Dengan adanya hama dan juga penyakit, dapat mengakibatkan adanya penurunan hasil panen yang diharapakan oleh para petani. Oleh karena itu, banyak dijumpai petani menggunakan pestisida sintetik sebagai pengendalian hama maupun penyakit pada tumbuhan. Pestisida merupakan kandungan zat yang mempunyai kegunaan untuk mengendalikan dan juga untuk menbunuh hama (Sutarni et al., 2007). Menurut FAO (Food and Agriculture Organization) pestisida yaitu suatu zat yang diharapkan bisa untuk pencegahan, menghancurkan, ataupun pengawasan setiap hama setiap hama yakni sebagai vektor ataupun pelindung dari manusia, hewan, ataupun penyakit dan lain sebagainya (Pertanian, 2011).

Pestisida sendiri dibagi menjadi tiga macam, meliputi pestisida kimia sintetis, pestisida organik dan juga pestisida semi organik. Pestisida kimia sendiri terbuat dari bahan- bahan kimia, pestisida organik sendiri terbuat dari bahan- bahan organik dari tumbuhan, hewan ataupun oragnisme lainnya. Sedangkan pestisida semiorganik sendiri terbuat dari gabungan dan perpaduan antara pestisida kimia dan juga pestisida organik. Kelebihan dari pestisida kimia ini sendiri lebih cepat dan efektif dalam mengendalikan hama dari pada pestisida organik yang secara langsung tidak membunuh hama melainkan dengan cara mempengaruhi fisiologi terlebih dahulu sehingga dengan begitu proses pertumbuhan dan juga perkembangan pada hama/penyakit ini sendiri bisa rusak dan berpengaruh pada sasaran hama itu sendiri. Namun, perlu kita ketahui bahwa sebagian besar pestisida juga mengandung bahan-bahan kimia, yang beracun yang dapat meninggalkan resisu- residu yang berbahaya. Dengan begitu akan berdampak negatif bagi lingkungan maupun pada kesehatan. Sesuai dengan penelitian Murty menjelaskan bahwa dalam penggunaan pestisida selain dapat membantu manusia dalam usaha mengatasi gangguan hama/penyakit, selain itu juga dapat memberikan pengaruh yang besar bagi suatu organisme dan juga pada lingkungan (Singkoh & Katili, 2019). Sehubung dengan adanya permasalahan tersebut, diperlukan adanya inovasi dalam pemanfaatan dan juga pengelolaan agen hayati yang digunakan dalam rangka suatu pengembangan teknologi pengendalian OTP (Organisme Pengganggu Tanaman) yang ekonomis dan juga ramah lingkungan. Actinomycetes merupakan salah satu dari oragnisme dimana berperan sebagai suatu agen hayati. Bakteri ini diketahui dapat menghasilkan sebuah senyawa bioaktif yang memiliki kemampuan yaitu sebagai anti jamur. Actinomycetes sendiri juga memiliki sebaransebaran dalam habitat yang sangat luas, limbah menjadi salah satu contoh dari habitatnya (Berdy, 2005).

Limbah yang banyak dihasilkan salah satunya limbah kulit bawang merah dan limbah kulit bawang putih. Limbah kulit bawang sendiri ternyata, mengandung beberapa senyawa- senyawa aktif yang bermanfaat bagi tanaman, kandungannya meliputi, mineral (Ca, K, Mg, P, Zn, Fe), hormon auksin dan giberelin yang merupakan hormon pemicu pertumbuhan tanaman, dan juga senyawa flavonoid dan acetogenin yang berfungsi sebagai anti hama. Kompos kulit bawang merah dan juga putih mengandung senyawa acetogenin yang berguna untuk mengendalikan dan juga bisa membunuh hama serangga tanaman (Shofiyah, 2018). Maka dari itu, biopstisida perlu dibutuhkan dan juga dikembangkan untuk inovasi pertanian yang ramah lingkungan, sehingga bisa meminimalisir dalam penggunaan pestisida sintetis. Biopestisida sendiri merupakan pestisida yang menggunakan bahan- bahan alami seperti tumbuhan, bakteri, mineral maupun hewan yang berkhasiat untuk mengendalikan OTP, dari aroma pestisida yang menyengat maupun dari kandungan pestisida yang dapat membununh serangga maupun hama penyakit. Tanpa kita sadari Indonesia memiliki berbagai jenis tumbuhan- tumbuhan yang dapat dimanfaatkan maupun dieksplorasi yang digunakan sebagai bahan untuk pembuatan biopstisida alami/nabati. Hal ini juga menandakan bahwa manusia mampu dalam memanfaatkan dan juga mengolah nilai- nilai potensial dari sumber daya alam sendiri guna untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya sendiri. Bahan alami yang dapat dibuat pestisida sangatlah banyak dan juga beragam akan tetapi disini kita menggunakan limbah kulit bawang putih dari salah satu UMKM krupuk yang ada di Desa Klorogan. Sehingga dengan inovasi ini diharapkan paradigma ini memberikan nilai positif kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah organik ataupun bahan yang bersifat alami yang ada disekitar kita yang tanpa kita sadari akan kaya manfaat. Dengan menggunakan pendekatan melalui metode Asset Based Community Development peneliti mengharapkan masyarakat di Desa Klorogan dapat mengembangkan inovasi yang telah penulis sarankan untuk meningkatkan hasil panen para petani

METODE

Pengabdian ini dilaksanakan Senin 18 Juli 2022 Pukul 13.0- s/d selesai tempat di Balai Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon, kegiatan Sosialisasi pemanfaatan limbah kulit bawang menjadi pestisida, sosialisasi ini perlu dilalkukan untuk mengganti ketergantungan penggunaan pestisida sintesis oleh petani di Desa Klorogan dengan menggunakan pestisida berbahan alami. Pemanfaatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan petani dalam memanfaatkan bahan- bahan alami yang ada dilingkungan seperti limbah kulit bawang putih dan merah yang dibuang secara percuma menjadi biopestisida alami yang sehat untuk dikonsumsi . Khalayak
sasaran pada pengabdian ini adalah para petani dan ibu-ibu
kelompok tani kampung Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Hal ini diharapkan kedepan bahwa petani Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon dapat menghasilkan produk sayuran yang bebas pestisida sintesis  dan pupuk kimia. Selain itu dengan adanya pelatihan bercocok tanam sayur-sayuran secara organik akan meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuat masyarakat mengkonsumsi sayuran sehat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan wawancara dan pengamatan secara langsung terkait dengan masalah yang ada di lapangan kemudian melakukan penyuluhan . Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida alami terdiri dari beberapa bahan. Bahan-bahan yang akan digunakan merupakan bahan yang tersedia di alam dan tidak digunakan lagi oleh masyarakat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.      Demografi Desa Cupang

Desa Cupang merupakan desa yang berada di daerah lereng Gunung Jaya sebelah utara dengan ketinggian 100 m dpl, sebagian besar wilayah desa cupang adalah lereng gunung dengan kemiringan antara 200 - 250. Sebelah selatan di batasi oleh Gunung Bendera yang sekaligus menjadi batas dengan desa Kedongdong, dan di sebelah barat berbatasan dengan desa Walahar, sebelah Utara di batasi oleh desa Ciwaringin, dan sebelah Timur berbatasan dengan desa Cikeusal (Gambar 1). Desa Cupang memiliki luas sekitar ± 167 887 ha dengan jumlah penduduk 3.360 jiwa yang tesebar di 4 wilayah RW. Desa Cupang memiliki sarana pendidikan berupa 1 unit taman kanak-kanak, 1 unit sekolah dasar, 1 unit madrasah (Universitas Muhammadiyah Cirebon, 2013).


 


Gambar 1. Peta desa Cupang

2.       Komposisi Sampah

Sampah yang dihasilkan oleh penduduk desa Cupang terdiri dari sampah organik dan anorganik. Sumber penghasil sampah organik diperoleh dari kegiatan memasak ibu rumah tangga berupa sampah sisa dapur dan daun dari pepohonanyang ditanam di sekitar rumah, sedangkan sampah anorganiknya yang rutin dihasilkan berupa kertas dan plastik, meskipun terdapat juga kardus, kaca dan logam, tetapi dalam jumlah relatif sedikit.

Setiap penghasil yaitu penduduk/ masyarakat dengan instistusi pendidikan menghasilkan komposisi sampah yang berbeda (Tabel 2). Tetapi pada umumnya sampah plastik paling banyak ditemukan dengan komposisi sebesar 41,1%, kecuali di sekolah dasar didominasi oleh sampah organik. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya pepohonan yang ditanami di halaman sekolah.

Tabel 2. Rata-rata komposisi sampah desa Cupang

 

Jenis sampah

Komposisi sampah (%)

 

Rata-rata

Penduduk

Sekolah dasar

Madrasah

Organik

 

 

 

 

Sisa dapur+daun

25,3

46,7

33,3

35,1

Anorganik

 

 

 

 

Kertas

23,4

21,4

26,6

23,8

Plastik

51,3

31,9

40,1

41,1

 

Timbulan sampah desa Cupang sebesar 439,9 kg/hari didominasi oleh jenis sampah plastik sebesar 41,1%, daun 35,1% dan kertas 23,8%. Sampah yang pada mulanya dibakar atau ditimbun kini dapat dimanfaatkan atau dikelola oleh masyarakat dengan cara memilah berdasarkan jenisnya yaitu kertas, plastik dan kerasan, kemudian dijual ke pengepul seperti sampah plastik, kertas, kaleng botol dan besi. Desa cupang termasuk desa yang sudah baik dalam mengelola sampah karena terdapat program Bank sampah yang masih berjalan meskipun kurang aktif namun terdapat catatatn Total penyetoran sampah bulan Mei 2013-Februari 2014 mencapai 1.105 kg terdiri dari jenis sampah plastik, kertas, kaleng, botol dan besi dengan total penjualan Rp 2.025.130. Dengan beranggotakan 65 orang, bank sampah Al-Karimah mampu menangani sampah plastik dan kertas sebesar 5% selama kurun waktu 10 bulan. Lalu Sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis didaur ulang menjadi kerajinan tas, dompet, taplak dan polibag tanaman. Sampah daun dan sisa dapur didaur ulang  belum menemukan solusi yang tepat sehingga kami mengajak ibu-ibu Kemlompok Tani Desa Cupang untuk memnafaatkan limbah limbah tersebut terutama limbah dapur agar diolah menjadi pestisida alami.

3.         Pengertian dan Cara Kerja Pestisida Alami

Menurut Mufasil (2010), pestisida alami adalah pestisida yang bahan aktifnya barasal dari tanaman atau tumbuhan, hewan dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida alami tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan serta dapat dibuat dengan mudah menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang sederhana. Pestisida nabati bisa dibuat secara sederhana yaitu dengan menggunakan hasil perasan, ekstrak, rendaman atau rebusan bagian tanaman baik berupa daun, batang, akar, umbi, biji ataupun buah. Pestisida dibagi menjadi dua, yaitu pestisida sintesis atau kimia dan pestisida organik atau alami. Sekilas pestisida kimia dengan pestisida alami sama saja, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan kedua pestisida tersebut dibedakan. Pestisida berbahan kimia memberika resiko serius dengan 23 terancamnya populasi organisme akibat dari penggunaan pestisida berbahan kimia (Djafarudin, 2007).

4.         Manfaat Kulit Bawang Merah

Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pestisida alami yaitu, bawang merah yang diambil kulitnya. Kulit bawang merah adalah bagian terluar atau pembalut dari daging bawang merah yang berpotensi dapat membunuh hama serangga pada tanaman, kulit bawang merah mengandung senyawa acetogenin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa tersebut memiliki 14 keistimewaan sebagai anti-feeden. Dalam hal ini, hama serangga tidak lagi bergairah dan menurunnya nafsu makan yang mengakibatkan hama serangga enggan untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan dalam konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan hama serangga menemui ajalnya. Hama serangga mengonsumsi daun yang mengandung senyawa acetogenin konsentrasi rendah, akan menyebabkan terganggunya proses pencernaan dan merusak organ-organ pencernaan, yang mengakibatkan kematian pada hama serangga (Ramadhan, 2012).

Selain mengandung anti-fedeen, kulit bawang merah juga mengandung senyawa squamosin. Kandungan pada squamosin mampu menghambat transfer elektron pada sistem respirasi sel hama serangga, yang menyebabkan hama serangga tidak dapat menerima nutrisi makanan yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Sehingga, walaupun hama serangga memakan daun yang telah tercemar oleh zat squamosin, hama serangga sama saja seperti tidak memakan apapun, karena nutrisi yang terkandung dalam daun yang dimakan hama serangga tidak dapat disalurkan keseluruh tubuhnya. Akhirnya, hama serangga akan mati secara perlahan (Ramadhan, 2012). Kandungan kimia aktif dimaksudkan sebagai komponen aktif biologi terhadap manusia maupun hewan dan tumbuhan. Kandungan kimia aktif biologi dapat bersifat racun jika digunakan pada dosis yang tinggi, dengan demikian secara in vivo kematian suatu hewan percobaan dapat dipakai sebagai alat pemantau penapisan awal pemantau penapisan awal kandungan kimia aktif suatu bahan alam terhadap ekstrak, fraksi maupun isolat. Namun pengujian ini 15 masih bersifat umum oleh karena itu perlu dilakukan uji lain yang lebih terarah untuk mengetahui aktivitas spesifiknya (Listianawati, 2014).

Selain berpotensi dapat membunuh hama ulat, kulit bawang merah juga memiliki beberapa manfaat lainnya yang menguntungkan. Zat dan senyawa yang terdapat pada kulit bawang merah dapat memberikan kesuburan bagi tanaman sehingga dapat mempercepat tumbuhnya buah dan bunga pada tumbuhan (Ramadhan, 2012).

5.         Tahap Pelaksanaan

a.       Tahap persiapan
Sosialisasi Kegiatan

Tujuan sosialisasi yang dilaksanakan di Desa Cupang adalah untuk menggali informasi dari masyarakat mengenai kebiasaan bercocok tanam yang sering dilakukan oleh masyarakat, jenis pupuk dan pestisida yang digunakan sebeapa sering menggunakan pestisida sintesis, pupuk kimia, dan pertanyaan lainnya, dan  sosialiasi ini bertujuan untuk menyampaikan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di balai desa pada tanggal 18 Juli 2022. Pada gambar.2

 

Gambar. 2 dengan ibu-ibu kelompok Tani








 

Presiapan Materi Penyuluhan

Adapun materi yang akan disampaikan pada tabel.2.

Tabel 2

Materi

Sub materi

Pemanfaatan Limbah Kulit Merah dan Putih Menjadi Biopestisida Alami Bersama Kelompok Tani di Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon

·         Definisi pestisida

·         Jenis pestisida

·         Dampak positif dan negatif pestisida

·         Jenis limbah untuk membuat pestisida alami

·         Cara membuat pestisida alami

·         Manfaat/keunggulan pestisida alami

b.      Tahap Pelaksanaan

1)      Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Pengabdian ini dilaksanakan Senin 18 Juli 2022 Pukul 13.0- s/d selesai tempat di Balai Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon, dengan sasaran penyuluhan ibu-ibu kelompok Tani berjumlah 25 orang.

2)      Pelaksaan Kegiatan

Metode pelaksanaan yang digunakan dalam program kegiatan penagbdian masyarakat ini melalui beberapa tahapan, yaitu  Penyuluhan dan diskusi Kegiatan ini dilakukan dengan mengumpulkan khalayak sasaran strategis (Kelompok petani) untuk mengikuti penyuluhan, ceramah dan diskusi tentang pengelolaan  pembuatan pestisida alami dari limbah bawang merah/ putih yang berkualitas. Pemateri dalam kegiatan ini mahasiswa biologi.

 Mahasiswa memberikan materi pemahaman kepada masyarakat bahwa terkait kandungan kulit bawang merah dan juga kulit bawang putih, kulit bawang merah mengandung potasium/kalium, zat besi, fosfor, magnesium dan juga mengandung unsur nitrogen. Meski begitu, kulit bawang merah mengandung hormon pertumbuhan /zat pengatur tubuh, seperti hormon auksin, giberelin, Dan hormon itu juga berguna memacu dan merangsang pertumbuhan dan juga perkembangan tanaman. Sedangkan, bawang putih sndiri ternyta mengandung hormon skordinin yang merupakan senyawa bio aktif yang dapat mempercepat pertumbuhan dan juga kandungannya pun setara dengan hormon auksin yang berguna untuk mempercepat adanya pertumbuhan tunas dan juga pengeluaran akar. Maka dari itu senyawa- senyawa metabolit senyawa yang terkandung seperti flavonoid dan acetogenin yang terkandung di dalam limbah kulit bawang ini dapat digunakan sebagai bahan dasar biopestisida (pestisida nabati) karena berperan sebagai anti hama. Sebenarnya, senyawa bioaktif tersebut paling banyak dijumpai pada umbi bawang, akan tetapi, umbi bawang ini sendiri digunakan sebagai salah satu sumber pangan, sehingga yang dimanfaatkan dalam program pelatihan ini adalah limbah kulit bawang. Takaran dalam pemakaian biopestisida berbahan kulit bawang ini apabila digunakan dalam dosis kecil dapat.

Tabel 3. Langkah- langkah Pembuatan Biopestisida Alami

Bahan dan juga Alat Biopestisida Alami

Langkah- langkah Pembuatan

Air rendaman kulit bawang putih selama semalam

Saring air rendaman limbah kulit bawang putih

Air leri ( air bekas cucian dari beras)

Campurkan air rendaman limbah kulit bawang putih dengan air leri ( air bekas cucian dari beras) NB: Banyaknya air leri tergantung oleh banyaknya air rendaman limbah kulit bawang putih

Gula Merah

NB: Bisa digantikan dengan gula pasir

Selanjutnya tambahkan gula merah 2 buah yang diiris kecil- kecil agar cepat larut

EM4 (Starter)

NB: Dosisnya 100 ml untuk 5 liter.

Selanjutnya yang terakhir tambahkan starter yaitu MOL ataupun EM4

NB: Sebenarnya jika tidak ditambahkan starter

tidak apa-apa, agar cepat terurai saja dan bagus hasilnya

Ember

Dilakukan fermentasi/ pemeraman selama 3 hari dan dilakukan pengecekkan dan pengadukan selama 1 x sehari. Setelah itu baru bisa

diaplikasikan ke tanaman.

6.       Evaluasi Kegiatan

Kegiatan pelatihan pemanfaatan ini, sebagai inovasi bagi petani khususnya bagi petani sayur agar dapat menjadi solusi dengan permasalahan dalam penurunan hasil panen yang diakibatkan oleh hama maupun juga penyakit. Selain itu juga, dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh petani sayur dalam mencukupi kebutuhan pestisida khususnya dimasa pandemi seperti Ini. Jadi, petani tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal apa lagi dimasa pandemi COVID-19 seperti ini dimana ekonomi juga terkena dampaknya. Jadi, langkah- langkah dalam pembuatan biopestisida yaitu, pertama air rendaman kulit bawang, kedua lalu ditambahkan campuran air bekas cucian dari beras atau bisa kita sebut dengan (air leri). Banyaknya air leri juga menyesuaikan dengan banyaknya air rendaman limbah kulit bawang putih, ketiga tambahkan gula merah 2 buah yang diiris kecil- kecil agar cepat larut, Selanjutnya yang terakhir tambahkan starter yaitu MOL ataupun EM4, NB: Sebenarnya jika tidak ditambahkan starter tidak apa-apa, agar cepat terurai saja dan hasilnya bagus, Dilakukan fermentasi atau pemeraman selama 3 hari dengan tempat yang tertutup seperti ember dan dilakukan pengecekkan dan pengadukan selama 1 x sehari. Setelah itu baru bisa diaplikasikan ke tanaman. Untuk takaran starter sendiri dapat dihitung yaitu setiap 100 ml per 5 liter air biasa. Pelatihan ini membuat ibu- ibu kelompok tani sangatlah antuasis dalam mengikuti acara kegiatan pembuatan biopestisida ini.

Pada kegiatan penyuluhan tersebut, ketika dibuka sesi tanya jawab, peserta sangat antusias, yang ditunjukkan oleh banyaknya pertanyaan tentang pembuatan kompos yang baik dengan menggunakan sumberdaya yang mereka miliki. Selain itu peserta juga menanyakan tentang permasalahan pupuk organik menggunakan limbah kulit bawang merah/putih


 

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dari analisis dan juga pengkajian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, kegiatan kuliah pengabdian masyarakat dapat menghasilkan sebuah inovasi, dan solusi kepada masyarakat Desa Cupang  terkait inovasi dengan mengganti ketergantungan petani pada penggunaan pestisida kimia dengan biopestisida alami dengan bahan dasar limbah kulit bawang putih dan merah. Pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan biopestisida alami menjadi sebuah peluang. Dengan memanfaatkan limbah kulit bawang putih/ merah , menjadikan produk yang kaya akan manfaat dalam meningkatkan daya produktivitas tanaman, sehingga masyarakat dapat mengembangkan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan. Selain murah dan mudah dalam pembutannya, penggunaan biopestisida alami ini dapat menghemat adanya pengeluaran akibat pupuk kimia. Selain itu juga, pupuk biopestisida alami berbahan dasar kulit bawang putih/merah ini perlu digalakkan lagi dalam pemanfaatannya, karena tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan mengurangi limbah.

 

SARAN

1.       Bagi Masyarakat : Diharapkan mampu menambah pengetahuan kepada masyarakat tentang pembuatan pestisida alami dari kulit bawang merah untuk membasmi hama pada tanaman kacang panjang, cabai keriting dan lain sebagainya.

2.       Bagi Peneliti : Diharapkan mampu menambah wawasan tentang kandungan yang terdapat dalam kulit bawang merah serta dosis kulit bawang merah yang efektif digunakan sebagai pestisida alami.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Berdy, J. (2005). Bioactive microbial metabolites. The Journal of Antibiotics, 58(1), 1–26. Dureau, C. (2013). Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan. Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, 96–97.

Butler, K. 2013. Membuka Jalan Bagi Sektor Swasta untuk Terlibat Dalam Pengelolaan Sampah di Perkotaan Indonesia. Jurnal Prkarsa Infrastruktur Indonesia, 15 (Oktober): 19-22

Habibi, S. M. (2018). Pemberdayaan ekonomi: pengolahan Bonggol Pisang: studi pendampingan komunitas perempuan dengan pendekatan Asset Based Community Development di Desa Candipari Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo. UIN Sunan Ampel Surabaya.

Hidrayani, H., Khairul, U., Ratib, F., Ikhsan, Z., & others. (2019). bahasa indonesia. JPT: JURNAL PROTEKSI TANAMAN (JOURNAL OF PLANT PROTECTION), 3(2), 85–92.

Khan, Y. D. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri; Mendongkrak Kualitas
Pendidikan. Yogyakarta: Pelangi Publishing

Listianawati, N, N. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Bawang Merah di Desa Kupu Kecamatan Winasari Kabupaten Brebes. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mufasil. 2010. Buku Pestisida. http://www.buku-pestisida.pdf. Diakses pada hari Selasa tanggal 5 April 2016 pukul 13.01 WIB.

Pertanian, K. (2011). Pedoman Pembinaan Penggunaan Pestisida. Direktorat Jenderal Prasarana Dan Sarana Pertanian. Direktorat Pupuk Dan Pestisida.

Ramadhan, I. 2012. Pestisida Kulit Bawang Merah. http://www.Ramadhan iqbal/2012/01/karya-ilmiah-pestisida-kulit-bawang-merah.html. Diakses pada hari Selasa tanggal 5 April 2016 pukul 16.40 WIB.

Ruslinda, E dan Pasimura, I. 2012. Satuan Timbulan dan Komposisi Sampah Institusi Kota Padang. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 9, 2 (Juli): 129-138

Sidarto. 2010. Analisis Usaha Proses Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dengan Pendekatan Cost and Benefit Ratio Guna Menunjang Kebersihan Lingkungan. Jurnal Teknologi, 3 (Desember): 161-168

Standar Nasional Indonesia. 2008. Pengelolaan Sampah di Permukiman. Hal 1-17 Suryanto, P.T, Wiandani, N. E, Sari, P. R. 2011. Efek Asap Pembakaran Kantong

Sampah Hitam Terhadap Struktur Histologis Pulmo dan Profil Eritrosit Mencit (Mus musculus L.) Jantan Galur Swiss. Jurnal Saintifika, 3 (Juli): 6-11

Sustaining Partnership. 2011. Manajemen Pengelolaan Sampah Berbasis Mandiri. Sustaining Partnership. Media Informasi Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Edisi November 2011.

Salahuddin, N. (2015). Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven Development (ABCD). LP2M UIN Sunan Ampel Surabaya.

Shofiyah, S. (2018). Uji Efektivitas Ekstrak Daun Dan Biji Sirsak (Annona Muricata Linn) Terhadap Kutu Daun Persik (Myzus Persicae Sulz)(Homoptera; Aphididae) Pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.). Universitas Brawijaya.

Singkoh, M., & Katili, D. Y. (2019). Bahaya pestisida sintetik (sosialisasi dan pelatihan bagi wanita kaum ibu desa Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa). JPAI: Jurnal Perempuan Dan Anak Indonesia, 1(1), 5–12.

Soetomo, P. M. (2009). Merangkai Sebuah Kerangka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sopialena, S. (2017). Segitiga Penyakit Tanaman.

Sutarni, S., Gofir, A., & Malueka, R. G. (2007). Sari Neurotoksikologi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press. Swadaya.

Tobing, I, S. 2005. Dampak Sampah Terhadap Kesehatan Lingkungan dan Manusia. Lokakarya: Aspek Lingkungan dan Legalitas Pembuangan Sampah serta Sosialisasi Pemanfaatan Sampah Organik Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kompos. Jakarta. Juni 2005

 

Sihombing, U. 2001. Pendidikan Luar Sekolah; Masalah, Tantangan, dan Peluang. Jakarta: Wirakarsa.

Universitas Muhammadiyah Cirebon. 2013. Update Social Mapping Desa Cupang Kecamatan Gempol, Cirebon

Yasa, I. M, T dan Sudiarsa, I, M. 2012. Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R Studi Kasus: Kecamatan Denpasar Selatan (Kodya Denpasar). Jurnal Matrix, 2 (Maret): 51-56

Tonton Video Pembahasan Soal OSN IPA

video 1 : https://youtu.be/L404_zMzRO4?feature=shared  Video 2 : https://youtu.be/kIj4znQ61Bk?feature=shared   video 3 : https://youtu.be/Os...