Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah dan Putih Menjadi
Biopestisida Alami Bersama Kelompok Tani di Desa Cupang Keacamatan Gempol
Kabupaten Cirebon
Aisya Fauzia
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Kelompok 96 KKN-TBM 2022
di Desa Cupang
Abstrak
Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten
Cirebon merupakan salah satu desa yang memiliki berbagai
potensi dimana aset yang ada dapat dikembangkan lagi, terutama pada sektor
pertanian dikarenakan sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai
petani. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Desa Cupang banyak dijumpai
bahwa petani sangat ketergantungan menggunakan pestisida sintesis, padahal dari
sistem tersebut memiliki banyak dampak negatif bagi tumbuhan maupun juga
lingkungan di sekitar. Dengan demikian, perlu diadakan alternatif untuk
mengganti ketergantungan penggunaan pestisida sintesis oleh petani di Desa
Klorogan dengan menggunakan pestisida berbahan alami. Pemanfaatan ini bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan petani dalam memanfaatkan
bahan- bahan alami yang ada dilingkungan seperti limbah kulit bawang putih dan
merah yang dibuang secara percuma menjadi biopestisida alami yang sehat untuk
dikonsumsi . Metode yang digunakan yaitu penyuluhan , pelatihan dan diksusi
hasil dari kegiatan ini pengabdian masyaraka ini dapat memberikan alternatif, pengetahuan dan
keterampilan dan juga solusi yang bermanfaat
dan bisa diterapkan oleh masyarakat di Desa Cupang,
Keyword
: Biopestisisa Alami, limbah kulit bawang , limbah organik
PENDAHULUAN
Desa cupang adalah Desa Cupang merupakan desa yang berada di daerah lereng Gunung Jaya sebelah utara dengan ketinggian 100 m dpl, sebagian besar wilayah desa cupang adalah lereng gunung dengan kemiringan
antara 200 - 250. Sebelah selatan di batasi oleh Gunung Bendera yang sekaligus menjadi
batas dengan desa Kedongdong, dan di sebelah
barat berbatasan dengan desa Walahar, sebelah Utara di batasi oleh desa Ciwaringin, dan sebelah Timur berbatasan
dengan desa Cikeusal (Gambar 1). Desa Cupang
memiliki luas sekitar ± 167 887 ha dengan jumlah penduduk 3.360 jiwa yang tesebar di 4 wilayah RW. Desa Cupang
memiliki sarana pendidikan berupa 1 unit taman kanak-kanak, 1 unit sekolah
dasar, 1 unit madrasah (Universitas Muhammadiyah Cirebon,
2013).
Hama merupakan suatu organisme yang menempel dan
menginfeksi tanaman dan juga merusak tanaman itu sendiri, hal ini mengakibatkan
adanya penurunan dari berbagai bidang seperti hasil pertanian maupun juga
perkebunan meliputi sayuran (Hidrayani et al., 2019). Maka dari itu, perlu
dibutuhkan cara- cara guna untuk memberantas hama. Pembudidayaan tanaman
terdapat berbagai kendala-kendala yang disebabkan oleh infeksi pada penyakit.
Berikut, adanya faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan juga
penyakit meliputi, adanya kelembapan, suhu, hama, cuaca dan juga bahkan oleh
lingkungan. Dalam hal ini, adanya gangguan penyakit maupun hama bukan hanya
disebabkan oleh faktor diatas akan tetapi, ditimbulkan oleh adanya beberapa
faktor yaitu dengan adanya berbagai jenis mikroorganisme diantaranya yaitu,
virus, jamur, protozoa, bakteri, tikus dan lain sebagainya (Sopialena, 2017).
Dengan adanya hama dan juga penyakit, dapat mengakibatkan adanya penurunan
hasil panen yang diharapakan oleh para petani. Oleh karena itu, banyak dijumpai
petani menggunakan pestisida sintetik sebagai pengendalian hama maupun penyakit
pada tumbuhan. Pestisida merupakan kandungan zat yang mempunyai kegunaan untuk
mengendalikan dan juga untuk menbunuh hama (Sutarni et al., 2007). Menurut FAO
(Food and Agriculture Organization) pestisida yaitu suatu zat
yang diharapkan bisa untuk pencegahan, menghancurkan, ataupun pengawasan setiap
hama setiap hama yakni sebagai vektor ataupun pelindung dari manusia, hewan,
ataupun penyakit dan lain sebagainya (Pertanian, 2011).
Pestisida sendiri dibagi menjadi tiga macam, meliputi
pestisida kimia sintetis, pestisida organik dan juga pestisida semi organik.
Pestisida kimia sendiri terbuat dari bahan- bahan kimia, pestisida organik
sendiri terbuat dari bahan- bahan organik dari tumbuhan, hewan ataupun
oragnisme lainnya. Sedangkan pestisida semiorganik sendiri terbuat dari
gabungan dan perpaduan antara pestisida kimia dan juga pestisida organik.
Kelebihan dari pestisida kimia ini sendiri lebih cepat dan efektif dalam
mengendalikan hama dari pada pestisida organik yang secara langsung tidak
membunuh hama melainkan dengan cara mempengaruhi fisiologi terlebih dahulu
sehingga dengan begitu proses pertumbuhan dan juga perkembangan pada
hama/penyakit ini sendiri bisa rusak dan berpengaruh pada sasaran hama itu
sendiri. Namun, perlu kita ketahui bahwa sebagian besar pestisida juga
mengandung bahan-bahan kimia, yang beracun yang dapat meninggalkan resisu-
residu yang berbahaya. Dengan begitu akan berdampak negatif bagi lingkungan
maupun pada kesehatan. Sesuai dengan penelitian Murty menjelaskan bahwa dalam
penggunaan pestisida selain dapat membantu manusia dalam usaha mengatasi
gangguan hama/penyakit, selain itu juga dapat memberikan pengaruh yang besar
bagi suatu organisme dan juga pada lingkungan (Singkoh & Katili, 2019).
Sehubung dengan adanya permasalahan tersebut, diperlukan adanya inovasi dalam
pemanfaatan dan juga pengelolaan agen hayati yang digunakan dalam rangka suatu
pengembangan teknologi pengendalian OTP (Organisme Pengganggu Tanaman) yang
ekonomis dan juga ramah lingkungan. Actinomycetes merupakan salah satu
dari oragnisme dimana berperan sebagai suatu agen hayati. Bakteri ini diketahui
dapat menghasilkan sebuah senyawa bioaktif yang memiliki kemampuan yaitu
sebagai anti jamur. Actinomycetes sendiri juga memiliki sebaransebaran
dalam habitat yang sangat luas, limbah menjadi salah satu contoh dari
habitatnya (Berdy, 2005).
Limbah yang banyak dihasilkan salah satunya limbah kulit
bawang merah dan limbah kulit bawang putih. Limbah kulit bawang sendiri
ternyata, mengandung beberapa senyawa- senyawa aktif yang bermanfaat bagi
tanaman, kandungannya meliputi, mineral (Ca, K, Mg, P, Zn, Fe), hormon auksin
dan giberelin yang merupakan hormon pemicu pertumbuhan tanaman, dan juga
senyawa flavonoid dan acetogenin yang berfungsi sebagai anti hama. Kompos kulit
bawang merah dan juga putih mengandung senyawa acetogenin yang berguna untuk
mengendalikan dan juga bisa membunuh hama serangga tanaman (Shofiyah, 2018).
Maka dari itu, biopstisida perlu dibutuhkan dan juga dikembangkan untuk inovasi
pertanian yang ramah lingkungan, sehingga bisa meminimalisir dalam penggunaan
pestisida sintetis. Biopestisida sendiri merupakan pestisida yang menggunakan
bahan- bahan alami seperti tumbuhan, bakteri, mineral maupun hewan yang
berkhasiat untuk mengendalikan OTP, dari aroma pestisida yang menyengat maupun
dari kandungan pestisida yang dapat membununh serangga maupun hama penyakit.
Tanpa kita sadari Indonesia memiliki berbagai jenis tumbuhan- tumbuhan yang
dapat dimanfaatkan maupun dieksplorasi yang digunakan sebagai bahan untuk
pembuatan biopstisida alami/nabati. Hal ini juga menandakan bahwa manusia mampu
dalam memanfaatkan dan juga mengolah nilai- nilai potensial dari sumber daya
alam sendiri guna untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya sendiri. Bahan
alami yang dapat dibuat pestisida sangatlah banyak dan juga beragam akan tetapi
disini kita menggunakan limbah kulit bawang putih dari salah satu UMKM krupuk
yang ada di Desa Klorogan. Sehingga dengan inovasi ini diharapkan paradigma ini
memberikan nilai positif kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah organik
ataupun bahan yang bersifat alami yang ada disekitar kita yang tanpa kita
sadari akan kaya manfaat. Dengan menggunakan pendekatan melalui metode Asset
Based Community Development peneliti mengharapkan masyarakat di Desa
Klorogan dapat mengembangkan inovasi yang telah penulis sarankan untuk meningkatkan
hasil panen para petani
METODE
Pengabdian ini dilaksanakan Senin 18 Juli 2022 Pukul
13.0- s/d selesai tempat di Balai Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon, kegiatan Sosialisasi pemanfaatan limbah kulit bawang menjadi pestisida, sosialisasi ini perlu dilalkukan untuk mengganti ketergantungan penggunaan pestisida sintesis
oleh petani di Desa Klorogan dengan menggunakan pestisida berbahan alami.
Pemanfaatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan
petani dalam memanfaatkan bahan- bahan alami yang ada dilingkungan seperti
limbah kulit bawang putih dan merah yang dibuang secara percuma menjadi
biopestisida alami yang sehat untuk dikonsumsi . Khalayak
sasaran pada pengabdian ini adalah para petani dan ibu-ibu kelompok tani kampung Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon. Hal
ini diharapkan kedepan
bahwa petani Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon dapat menghasilkan produk sayuran yang bebas pestisida sintesis dan pupuk kimia. Selain itu dengan adanya pelatihan bercocok tanam sayur-sayuran secara organik akan meningkatkan
perekonomian masyarakat
dan membuat masyarakat mengkonsumsi sayuran sehat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan wawancara
dan pengamatan secara langsung terkait dengan masalah yang ada di lapangan kemudian melakukan penyuluhan . Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisida alami terdiri dari beberapa bahan. Bahan-bahan yang akan digunakan merupakan bahan yang tersedia di alam dan tidak digunakan lagi oleh masyarakat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Demografi Desa Cupang
Desa Cupang merupakan desa yang berada di daerah lereng Gunung Jaya sebelah utara dengan ketinggian 100 m dpl, sebagian besar wilayah desa cupang adalah lereng gunung dengan kemiringan
antara 200 - 250. Sebelah selatan di batasi oleh Gunung Bendera yang sekaligus menjadi
batas dengan desa Kedongdong, dan di sebelah
barat berbatasan dengan desa Walahar, sebelah Utara di batasi oleh desa Ciwaringin, dan sebelah Timur berbatasan
dengan desa Cikeusal (Gambar 1). Desa Cupang
memiliki luas sekitar ± 167 887 ha dengan jumlah penduduk 3.360 jiwa yang tesebar di 4 wilayah RW. Desa Cupang
memiliki sarana pendidikan berupa 1 unit taman kanak-kanak, 1 unit sekolah
dasar, 1 unit madrasah (Universitas Muhammadiyah Cirebon,
2013).
Gambar 1. Peta
desa Cupang
2.
Komposisi Sampah
Sampah yang dihasilkan oleh penduduk desa Cupang terdiri
dari sampah organik dan
anorganik. Sumber penghasil sampah organik diperoleh dari kegiatan
memasak ibu rumah tangga berupa sampah sisa dapur dan daun dari pepohonanyang
ditanam di sekitar rumah, sedangkan sampah anorganiknya yang rutin dihasilkan
berupa kertas dan plastik, meskipun terdapat juga kardus, kaca dan logam,
tetapi dalam jumlah relatif sedikit.
Setiap penghasil yaitu penduduk/ masyarakat dengan instistusi pendidikan menghasilkan komposisi sampah
yang berbeda (Tabel 2). Tetapi pada umumnya
sampah plastik paling banyak ditemukan dengan komposisi sebesar 41,1%, kecuali di sekolah dasar didominasi oleh
sampah organik. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya pepohonan
yang ditanami di halaman sekolah.
Tabel 2. Rata-rata
komposisi sampah desa Cupang
|
Jenis sampah |
Komposisi sampah (%) |
|
Rata-rata |
|
|
Penduduk |
Sekolah dasar |
Madrasah |
||
|
Organik |
|
|
|
|
|
Sisa dapur+daun |
25,3 |
46,7 |
33,3 |
35,1 |
|
Anorganik |
|
|
|
|
|
Kertas |
23,4 |
21,4 |
26,6 |
23,8 |
|
Plastik |
51,3 |
31,9 |
40,1 |
41,1 |
Timbulan sampah desa Cupang sebesar 439,9 kg/hari didominasi oleh jenis sampah plastik sebesar 41,1%, daun 35,1% dan kertas 23,8%. Sampah yang pada mulanya dibakar atau ditimbun kini dapat dimanfaatkan atau dikelola oleh masyarakat dengan cara memilah berdasarkan jenisnya yaitu kertas, plastik dan kerasan, kemudian dijual ke pengepul seperti sampah plastik, kertas, kaleng botol dan besi. Desa cupang termasuk desa yang sudah baik dalam mengelola sampah karena terdapat program Bank sampah yang masih berjalan meskipun kurang aktif namun terdapat catatatn Total penyetoran sampah bulan Mei 2013-Februari 2014 mencapai 1.105 kg terdiri dari jenis sampah plastik, kertas, kaleng, botol dan besi dengan total penjualan Rp 2.025.130. Dengan beranggotakan 65 orang, bank sampah Al-Karimah mampu menangani sampah plastik dan kertas sebesar 5% selama kurun waktu 10 bulan. Lalu Sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis didaur ulang menjadi kerajinan tas, dompet, taplak dan polibag tanaman. Sampah daun dan sisa dapur didaur ulang belum menemukan solusi yang tepat sehingga kami mengajak ibu-ibu Kemlompok Tani Desa Cupang untuk memnafaatkan limbah limbah tersebut terutama limbah dapur agar diolah menjadi pestisida alami.
3.
Pengertian
dan Cara Kerja Pestisida Alami
Menurut Mufasil (2010), pestisida alami adalah pestisida yang
bahan aktifnya barasal dari tanaman atau tumbuhan, hewan dan bahan organik
lainnya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida
alami tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan
serta dapat dibuat dengan mudah menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang
sederhana. Pestisida nabati bisa dibuat secara sederhana
yaitu dengan menggunakan
hasil perasan, ekstrak, rendaman atau rebusan bagian tanaman baik berupa
daun, batang, akar, umbi, biji ataupun buah. Pestisida dibagi menjadi dua,
yaitu pestisida sintesis atau kimia dan pestisida organik atau alami. Sekilas
pestisida kimia dengan pestisida alami sama saja, namun ada beberapa faktor
yang menyebabkan kedua pestisida tersebut dibedakan. Pestisida berbahan kimia
memberika resiko serius dengan 23 terancamnya populasi organisme akibat dari
penggunaan pestisida berbahan kimia (Djafarudin, 2007).
4.
Manfaat Kulit Bawang Merah
Salah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai pestisida alami
yaitu, bawang merah yang diambil kulitnya. Kulit bawang merah adalah bagian
terluar atau pembalut dari daging bawang merah yang berpotensi dapat membunuh
hama serangga pada tanaman, kulit bawang merah mengandung senyawa acetogenin.
Pada konsentrasi tinggi, senyawa tersebut memiliki 14 keistimewaan sebagai anti-feeden.
Dalam hal ini, hama serangga tidak lagi bergairah dan menurunnya nafsu makan
yang mengakibatkan hama serangga enggan untuk melahap bagian tanaman yang
disukainya. Sedangkan dalam konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa
mengakibatkan hama serangga menemui ajalnya. Hama serangga mengonsumsi daun
yang mengandung senyawa acetogenin konsentrasi rendah, akan menyebabkan
terganggunya proses pencernaan dan merusak organ-organ pencernaan, yang
mengakibatkan kematian pada hama serangga (Ramadhan, 2012).
Selain mengandung anti-fedeen, kulit bawang merah juga
mengandung senyawa squamosin. Kandungan pada squamosin mampu
menghambat transfer elektron pada sistem respirasi sel hama serangga, yang
menyebabkan hama serangga tidak dapat menerima nutrisi makanan yang dibutuhkan
oleh tubuhnya. Sehingga, walaupun hama serangga memakan daun yang telah
tercemar oleh zat squamosin, hama serangga sama saja seperti tidak
memakan apapun, karena nutrisi yang terkandung dalam daun yang dimakan hama
serangga tidak dapat disalurkan keseluruh tubuhnya. Akhirnya, hama serangga
akan mati secara perlahan (Ramadhan, 2012). Kandungan kimia aktif dimaksudkan
sebagai komponen aktif biologi terhadap manusia maupun hewan dan tumbuhan.
Kandungan kimia aktif biologi dapat bersifat racun jika digunakan pada dosis
yang tinggi, dengan demikian secara in vivo kematian suatu hewan
percobaan dapat dipakai sebagai alat pemantau penapisan awal pemantau penapisan
awal kandungan kimia aktif suatu bahan alam terhadap ekstrak, fraksi maupun
isolat. Namun pengujian ini 15 masih bersifat umum oleh karena itu perlu
dilakukan uji lain yang lebih terarah untuk mengetahui aktivitas spesifiknya
(Listianawati, 2014).
Selain berpotensi dapat membunuh hama ulat, kulit bawang merah
juga memiliki beberapa manfaat lainnya yang menguntungkan. Zat dan senyawa yang
terdapat pada kulit bawang merah dapat memberikan kesuburan bagi tanaman
sehingga dapat mempercepat tumbuhnya buah dan bunga pada tumbuhan (Ramadhan,
2012).
5.
Tahap Pelaksanaan
Tujuan
sosialisasi yang dilaksanakan di Desa Cupang adalah
untuk menggali informasi
dari masyarakat mengenai kebiasaan bercocok
tanam yang sering dilakukan oleh masyarakat, jenis pupuk dan pestisida yang
digunakan sebeapa sering menggunakan pestisida sintesis, pupuk kimia,
dan pertanyaan lainnya, dan
sosialiasi ini bertujuan untuk menyampaikan
kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di balai desa pada tanggal 18 Juli 2022. Pada gambar.2
Gambar. 2 dengan ibu-ibu kelompok Tani
|
|
|
|
|
|
Presiapan Materi Penyuluhan
Adapun materi yang akan disampaikan pada tabel.2.
Tabel 2
|
Materi |
Sub materi |
|
Pemanfaatan Limbah Kulit Merah dan Putih Menjadi Biopestisida
Alami Bersama Kelompok Tani di Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten
Cirebon |
·
Definisi pestisida ·
Jenis pestisida ·
Dampak positif dan negatif pestisida ·
Jenis limbah untuk membuat pestisida alami ·
Cara membuat pestisida alami ·
Manfaat/keunggulan pestisida alami |
b.
Tahap Pelaksanaan
1)
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pengabdian ini dilaksanakan Senin 18 Juli 2022 Pukul
13.0- s/d selesai tempat di Balai Desa Cupang Keacamatan Gempol Kabupaten Cirebon, dengan sasaran penyuluhan ibu-ibu kelompok
Tani berjumlah 25 orang.
2)
Pelaksaan Kegiatan
Metode
pelaksanaan yang digunakan dalam program kegiatan penagbdian masyarakat ini
melalui beberapa tahapan, yaitu Penyuluhan dan diskusi Kegiatan ini dilakukan
dengan mengumpulkan khalayak sasaran strategis (Kelompok petani) untuk
mengikuti penyuluhan, ceramah dan diskusi tentang pengelolaan pembuatan pestisida alami dari limbah bawang
merah/ putih yang
berkualitas. Pemateri
dalam kegiatan ini mahasiswa biologi.
Mahasiswa memberikan materi pemahaman kepada masyarakat bahwa terkait kandungan
kulit bawang merah dan juga kulit bawang putih, kulit bawang merah mengandung potasium/kalium, zat besi,
fosfor, magnesium dan juga mengandung unsur nitrogen. Meski begitu, kulit bawang merah mengandung hormon pertumbuhan
/zat pengatur tubuh, seperti hormon auksin, giberelin, Dan hormon itu juga berguna memacu dan merangsang pertumbuhan
dan juga perkembangan tanaman. Sedangkan, bawang putih sndiri ternyta
mengandung hormon skordinin
yang merupakan senyawa
bio aktif yang dapat mempercepat pertumbuhan dan juga kandungannya pun setara dengan hormon auksin yang berguna
untuk mempercepat adanya pertumbuhan tunas dan juga pengeluaran akar. Maka dari itu senyawa-
senyawa metabolit senyawa
yang terkandung seperti flavonoid dan acetogenin yang
terkandung di dalam limbah kulit bawang ini dapat digunakan sebagai bahan dasar biopestisida (pestisida nabati)
karena berperan sebagai anti hama.
Sebenarnya, senyawa bioaktif tersebut paling banyak dijumpai pada umbi bawang, akan tetapi, umbi bawang ini sendiri digunakan sebagai salah
satu sumber pangan, sehingga yang dimanfaatkan
dalam program pelatihan ini adalah limbah kulit bawang. Takaran dalam pemakaian
biopestisida berbahan kulit bawang ini apabila digunakan
dalam dosis kecil dapat.
Tabel 3. Langkah-
langkah Pembuatan Biopestisida Alami
|
Bahan dan
juga Alat Biopestisida Alami |
Langkah- langkah Pembuatan |
|
Air
rendaman kulit bawang putih selama semalam |
Saring air rendaman limbah
kulit bawang putih |
|
Air leri (
air bekas cucian dari
beras) |
Campurkan
air rendaman limbah kulit bawang putih
dengan air leri ( air bekas cucian dari beras) NB: Banyaknya air leri tergantung oleh banyaknya air rendaman limbah kulit bawang putih |
|
Gula Merah NB: Bisa
digantikan dengan gula
pasir |
Selanjutnya
tambahkan gula merah 2 buah yang diiris kecil-
kecil agar cepat larut |
|
EM4
(Starter) NB: Dosisnya 100 ml untuk
5 liter. |
Selanjutnya
yang terakhir tambahkan starter yaitu
MOL ataupun EM4 NB: Sebenarnya jika tidak ditambahkan starter tidak
apa-apa, agar cepat terurai saja dan bagus
hasilnya |
|
Ember |
Dilakukan
fermentasi/ pemeraman selama 3 hari dan
dilakukan pengecekkan dan pengadukan selama 1 x
sehari. Setelah itu baru bisa diaplikasikan ke tanaman. |
6. Evaluasi Kegiatan
Kegiatan
pelatihan pemanfaatan ini, sebagai inovasi bagi petani khususnya bagi petani sayur agar dapat menjadi solusi
dengan permasalahan dalam penurunan hasil panen yang diakibatkan oleh hama maupun juga penyakit. Selain itu
juga, dapat mengurangi biaya yang
dikeluarkan oleh petani sayur dalam mencukupi kebutuhan pestisida khususnya
dimasa pandemi seperti Ini. Jadi,
petani tidak perlu mengeluarkan biaya yang mahal apa lagi dimasa pandemi COVID-19 seperti ini dimana ekonomi
juga terkena dampaknya. Jadi, langkah- langkah
dalam pembuatan biopestisida yaitu, pertama air rendaman kulit bawang, kedua
lalu ditambahkan campuran air bekas
cucian dari beras atau bisa kita sebut dengan (air leri). Banyaknya air leri juga menyesuaikan
dengan banyaknya air rendaman limbah kulit bawang putih, ketiga tambahkan
gula merah 2 buah yang diiris kecil- kecil agar cepat larut, Selanjutnya
yang terakhir tambahkan starter yaitu MOL ataupun EM4, NB: Sebenarnya jika tidak ditambahkan starter tidak apa-apa,
agar cepat terurai saja dan hasilnya bagus, Dilakukan fermentasi atau pemeraman selama 3 hari dengan tempat yang
tertutup seperti ember dan dilakukan
pengecekkan dan pengadukan selama 1 x sehari. Setelah itu baru bisa
diaplikasikan ke tanaman. Untuk
takaran starter sendiri dapat dihitung yaitu setiap 100 ml per 5 liter air biasa. Pelatihan ini membuat ibu- ibu
kelompok tani sangatlah antuasis
dalam mengikuti acara kegiatan
pembuatan biopestisida ini.
Pada kegiatan penyuluhan tersebut, ketika dibuka sesi
tanya jawab, peserta sangat antusias, yang ditunjukkan oleh banyaknya
pertanyaan tentang pembuatan kompos yang baik dengan menggunakan sumberdaya
yang mereka miliki. Selain itu peserta juga menanyakan tentang permasalahan
pupuk organik menggunakan limbah kulit bawang merah/putih
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian dari analisis dan juga pengkajian,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa, kegiatan
kuliah pengabdian masyarakat dapat menghasilkan sebuah inovasi, dan solusi
kepada masyarakat Desa Cupang terkait inovasi dengan mengganti
ketergantungan petani pada penggunaan pestisida
kimia dengan biopestisida alami dengan bahan dasar limbah kulit bawang putih dan merah. Pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan biopestisida alami menjadi sebuah peluang. Dengan memanfaatkan limbah kulit bawang
putih/ merah , menjadikan produk yang
kaya akan manfaat dalam meningkatkan daya produktivitas tanaman, sehingga masyarakat dapat mengembangkan sistem pertanian organik
yang ramah lingkungan. Selain murah dan mudah dalam
pembutannya, penggunaan biopestisida alami ini
dapat menghemat adanya pengeluaran akibat pupuk kimia. Selain itu juga,
pupuk biopestisida alami berbahan
dasar kulit bawang putih/merah ini perlu digalakkan lagi dalam
pemanfaatannya, karena tidak
memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan
mengurangi limbah.
SARAN
1.
Bagi Masyarakat : Diharapkan
mampu menambah pengetahuan kepada masyarakat tentang pembuatan pestisida alami
dari kulit bawang merah untuk membasmi hama pada tanaman kacang panjang, cabai
keriting dan lain sebagainya.
2.
Bagi Peneliti : Diharapkan
mampu menambah wawasan tentang kandungan yang terdapat dalam kulit bawang merah
serta dosis kulit bawang merah yang efektif digunakan sebagai pestisida alami.
DAFTAR PUSTAKA
Berdy, J.
(2005). Bioactive microbial metabolites. The
Journal of Antibiotics, 58(1),
1–26. Dureau, C. (2013). Pembaru dan kekuatan
lokal untuk pembangunan. Australian Community Development and Civil Society
Strengthening Scheme (ACCESS)
Tahap II, 96–97.
Butler, K. 2013. Membuka Jalan Bagi Sektor Swasta untuk Terlibat Dalam Pengelolaan Sampah di Perkotaan
Indonesia. Jurnal Prkarsa
Infrastruktur Indonesia, 15 (Oktober): 19-22
Habibi, S. M. (2018).
Pemberdayaan ekonomi:
pengolahan Bonggol Pisang:
studi pendampingan komunitas
perempuan dengan pendekatan Asset Based Community
Development di Desa Candipari Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo.
UIN Sunan Ampel Surabaya.
Hidrayani,
H., Khairul, U., Ratib, F., Ikhsan, Z., & others. (2019). bahasa indonesia.
JPT: JURNAL PROTEKSI
TANAMAN (JOURNAL OF PLANT PROTECTION), 3(2), 85–92.
Khan,
Y. D. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri; Mendongkrak Kualitas
Pendidikan. Yogyakarta: Pelangi Publishing
Listianawati, N, N. Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Produksi Bawang Merah di Desa Kupu Kecamatan Winasari Kabupaten
Brebes. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Mufasil.
2010. Buku Pestisida. http://www.buku-pestisida.pdf. Diakses pada hari
Selasa tanggal 5 April 2016 pukul 13.01 WIB.
Pertanian, K. (2011). Pedoman
Pembinaan Penggunaan Pestisida. Direktorat Jenderal
Prasarana Dan Sarana
Pertanian. Direktorat Pupuk Dan
Pestisida.
Ramadhan, I. 2012. Pestisida Kulit Bawang Merah.
http://www.Ramadhan
iqbal/2012/01/karya-ilmiah-pestisida-kulit-bawang-merah.html. Diakses pada hari
Selasa tanggal 5 April 2016 pukul 16.40 WIB.
Ruslinda, E dan Pasimura, I. 2012. Satuan Timbulan dan Komposisi
Sampah Institusi Kota Padang. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND 9, 2 (Juli): 129-138
Sidarto. 2010. Analisis Usaha Proses Pengelolaan Sampah Rumah
Tangga Dengan Pendekatan Cost and
Benefit Ratio Guna Menunjang Kebersihan Lingkungan. Jurnal Teknologi, 3
(Desember): 161-168
Standar Nasional Indonesia. 2008. Pengelolaan Sampah di
Permukiman. Hal 1-17 Suryanto, P.T, Wiandani, N. E, Sari, P. R. 2011. Efek Asap Pembakaran Kantong
Sampah Hitam Terhadap
Struktur Histologis Pulmo dan Profil Eritrosit Mencit (Mus musculus L.)
Jantan Galur Swiss.
Jurnal Saintifika, 3 (Juli): 6-11
Sustaining Partnership. 2011. Manajemen Pengelolaan Sampah
Berbasis Mandiri. Sustaining
Partnership. Media Informasi Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Edisi November 2011.
Salahuddin, N. (2015). Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya Asset Based Community-Driven Development (ABCD). LP2M UIN Sunan
Ampel Surabaya.
Shofiyah,
S. (2018). Uji Efektivitas Ekstrak Daun
Dan Biji Sirsak (Annona Muricata Linn) Terhadap Kutu Daun Persik (Myzus Persicae
Sulz)(Homoptera; Aphididae) Pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.).
Universitas Brawijaya.
Singkoh,
M., & Katili, D. Y. (2019). Bahaya pestisida sintetik (sosialisasi dan
pelatihan bagi wanita kaum ibu desa
Koka Kecamatan Tombulu Kabupaten Minahasa). JPAI:
Jurnal Perempuan Dan Anak
Indonesia, 1(1), 5–12.
Soetomo,
P. M. (2009). Merangkai Sebuah Kerangka. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Sopialena, S. (2017). Segitiga Penyakit Tanaman.
Sutarni,
S., Gofir, A., & Malueka, R. G. (2007). Sari Neurotoksikologi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press.
Swadaya.
Tobing, I, S. 2005. Dampak Sampah
Terhadap Kesehatan Lingkungan dan Manusia. Lokakarya: Aspek Lingkungan dan Legalitas Pembuangan Sampah serta Sosialisasi Pemanfaatan Sampah Organik
Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kompos. Jakarta. Juni 2005
Sihombing, U. 2001. Pendidikan Luar Sekolah;
Masalah, Tantangan, dan Peluang. Jakarta: Wirakarsa.
Universitas Muhammadiyah Cirebon.
2013. Update Social Mapping Desa Cupang Kecamatan Gempol, Cirebon
Yasa, I. M, T dan Sudiarsa, I, M.
2012. Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R Studi Kasus: Kecamatan Denpasar
Selatan (Kodya Denpasar).
Jurnal Matrix, 2 (Maret):
51-56


.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kritik dan sarannya